Film ini bercerita tentang globalisasi yang didesain agar
menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang diperbudak
serta utang luar negeri. Film ini juga
menceritakan bahwa inilah era penguasa baru dunia (the new rulers of the
world), khususnya pengaruh bagi sebuah negara (Indonesia).
Dalam
film ini dipaparkan
kondisi buruh pabrik di Indonesia yang mengenaskan yang bekerja di perusahaan
multinasional (MNC = multinational company) seperti Nike, Adidas, GAP,
sedangkan disisi lain perusahaan MNC dan distributor di negara-negara maju
meraup keuntungan yang sangat besar,
Untuk kasus utang luar negeri, telah menjerat Indonesia menjadi negara penghutang
(idealnya sepanjang masa) sejak rezim Soeharto. World Bank dan negara-negara
kreditor mengambil keuntungan yang besar dari mekanisme yang tidak transparan
dan cacat hukum tersebut melalui proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan
multinasional dari negara-negara asal masing masing. Jadi, meskipun WB dan
negara kreditor memberi pinjaman 100%, namun sebenarnya sebagian besar uang
tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerja negara kreditor dan hanya
sekitar separuh uang pinjaman tersebut benar-benar masuk ke negara miskin
tersebut.
Pada pembukaan film dokumenter tersebut, disajikan sebuah lagu
mengenai globalisasi. Yang berbunyi :
“Keuntungan dunia baru kini
Pemimpin industri besar
Katanya memiliki visi dan misi mulia
tapi kejam kepada ku
Mereka menjanjikan dunia dimana setiap orang menjadi kaya, pintar dan muda
Namun, seandainya pun aku hidup dapat merasakannya
Bagi ku itu sudah sangat terlambat ”
Pemimpin industri besar
Katanya memiliki visi dan misi mulia
tapi kejam kepada ku
Mereka menjanjikan dunia dimana setiap orang menjadi kaya, pintar dan muda
Namun, seandainya pun aku hidup dapat merasakannya
Bagi ku itu sudah sangat terlambat ”
Itulah
fakta yang terjadi di Indonesia. Dan pada awal tahun 2000-an, terjadi gerakan
jutaan manusia menentang globalisasi di berbagai penjuru dunia. Globalisasi
yang didengung-dengungkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal bahwa akan
membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata mengakibatkan jurang pemisah yang
begitu besar antara si kaya dan si miskin.
Fakta-fakta
tersembunyi globalisasi yaitu :
- Sekitar 10% penduduk dunia
menikmati dan memiliki 90% kekayaan dunia, sedangkan sisa 90% penduduk
dunia harus merebut 10% uang untuk menghidupi keluarganya.
- Total kekayaan sekelompok kecil
orang yang berkuasa ternyata lebih besar dari total kekayaan seluruh
penduduk benua Afrika.
- Seperempat (1/4) kegiatan
ekonomi dunia dapat dikuasai hanya dengan 200 perusahaan MNC.
Efek
Globalisasi di Indonesia
Banyak pembeli yang tidak menyadari bahwa di jalan-jalan
besar atau di supermarket, berbagai produk dengan merek terkenal, mulai sepatu
olahraga, kaos hingga pakaian bayi hampir seluruhnya dibuat di negara-negara
yang sangat miskin dengan upah buruh yang sangat rendah, nyaris seperti budak.
Fakta : Untuk marketing produk Nike, perusahaan membayar pegolf Tiger Woods
lebih besar dibandingkan dengan upah seluruh buruh yang membuat produk Nike di
Indonesia.
Sehingga kita perlu tanyakan kembali, inikah globalisasi
yang menjadi harapan masa depan dunia? Ataukah globalisasi hanyalah kedok
penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja
dan sekarang diteruskan oleh (perusahaan) MNC dengan bantuan berbagai lembaga
keuangan dunia dan pemeritah (Indonesia) sebagai penopangnya?
Indonesia adalah sebuah
negara dimana imperialisme lama bertemu imperialisme baru. Ini sebuah negara
yang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah: Tembaga dan emas, minyak dan
kayu, keahlian dan SDM-nya. Dijajah oleh Belanda di abad ke-16, itu
sesungguhnya hutang yang sampai saat ini masih belum terbayar. Ratusan tahun
lamanya, Indonesia itu dihisap oleh negara-negara utara, bukan hanya Indonesia
semua negara-negara kulit berwawrna sehingga barat menjadi kuat, menjadi
makmur.
Departemen Keuangan AS
dikuasai Bank Dunia dan IMF. Dua lembaga ini adalah agen-agen negara-negara
terkaya di muka bumi ini, khususnya Amerika Serikat. IMF dan Bank Dunia
dibentuk menjelang akhir PD II, untuk membangun kembali perekonomian Eropa.
Kemudian dua lembaga itu mulai meminjami uang untuk negara miskin, dengan
syarat dibiarkan memasuki ekonomi negara tersebut dan perusahaan barat
dibolehkan menolah bahan mentah dan pasar di negara tersebut.
Hutang digunakan
sebagai alat agar kebijakan IMF dan Bank Dunia diterapkan di banyak dunia
ketiga. Kondisi saat ini adalah, negara-negara termiskin sudah berada dalam
lingkaran setan kemiskinan. Mereka tidak bisa keluar, bahkan penghapusan hutang
pun, tidak mampu menyelamatkan mereka dari perangkap kemiskinan. Ini bukan
masalah penghapusan hutang, karena banyak hutang diberikan di bawah tekanan
lembaga-lembaga internasional atau kolusi dengan pemerintah yang tidak memihak
rakyatnya. (Barry Coates, Gerakan Pembangunan Dunia)
Bank Dunia mengatakan
bahwa tujuannya adalah membantu masyarakat miskin, denganmempromosikan "pembangunan global" Sistem yang sebenarnya sederhana: "Sebuah bentuk sosialisme bagi si kaya, dan kapitalisme bagi si miskin." Kaum kaya menjadi luar biasa kaya dari hutang, buruh murah dan menghindari pajak, sementara kaum miskin makin miskin karena pekerjaan dan layanan publik, dicabut untuk membayar bunga pinjaman pemerintah kepada Bank Dunia.
0 komentar :
Posting Komentar